Rabu, 09 Mei 2012

Menumbuhkan Semangat Menuntut Ilmu Pada Muslimah

Sesungguhnya, dalam menjalani berbagai perannya, peran wanita dapat dipetakan menjadi tiga peran penting yaitu sebagai sebagai pribadi muslimah, sebagai istri, dan sebagai ibu. Pada masing-masing peran, dibutuhkan ilmu yang dapat menjaganya dari berbagai bentuk penyimpangan. Berikut penjelasan ketiga hal tersebut: 1. Sebagai pribadi muslimah Seorang muslimah akan selalu terikat dengan berbagai aturan agama yang menyangkut dirinya sebagai seorang yang beragama Islam seperti kewajiban untuk merealisasikan rukun iman dan rukun Islam serta aturan lain yang merupakan konsekuensi dari kedua hal tersebut ataupun kewajiban yang terkait dengan kedudukannya sebagai seorang wanita seperti larangan dan kewajiban pada masa haid, kewajiban menutup aurot, dan sebagainya. Seluruh hal tersebut memerlukan ilmu sehingga kewajiban menuntut ilmu juga dibebankan kepda kaum wanita sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut, طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ “Mencari ilmu itu merupakan kewajiban bagi seorang muslim.” (Hadits shahih riwayat Ibnu Adi dan Baihaqi dari Anas radhiyallahu ‘anhu ) Al Hafizh Al Sahawi rahimahullah berkata, “Sebagian penulis menambahkan kata-kata muslimatin pada akhir hadits. Kata-kata ini tidak pernah disebutkan satu kali pun dalam berbagai sanad hadits tersebut, sekalipun secara makna memang benar.” Bertolak dari hal ini Ibnu Hazm rahimahullah berkomentar, “Menjadi kewajiban bagi wanita untuk pergi dalam rangka mendalami ilmu agama sebagaimana hal ini menjadi kewajiban bagi kaum laki-laki. Setiap wanita diwajibkan untuk mengetahui ketentuan-ketentuan agama berkenaan dengan permasalahan bersuci, shalat, puasa dan makanan, minuman, serta pakaian yang dihalalkan dan yang diharamkan sebagaimana kaum laki-laki, tanpa ada perbedaan sedikitpun di antara keduanya. Mereka juga harus mempelajari berbagai tutur kata dan sikap yang benar baik dengan belajar sendiri maupun dengan diperkenankan untuk bertemu seseorang yang dapat mengajarinya. Menjadi kewajiban para penguasa untuk mengharuskan rakyatnya agar menjalankan kewajiban ini”. (Al Ihkam fii Ushulil Ahkam 1/413 dalam Para Ulama Wanita Pengukir Sejarah, hlm. 7). Al Hafizh Ibnul Jauzi rahimahullah juga berkata, “Sering aku menganjurkan kepada manusia agar mereka menuntut ilmu syar’i karena ilmu laksana cahaya yang menyinari. Menurutku kaum wanita lebih dianjurkan dibanding kaum laki-laki karena jauhnya mereka dari ilmu agama dan hawa nafsu begitu mengakar dalam diri mereka. Kita lihat seorang putri yang tumbuh besar tidak mengerti cara bersuci dari haid, tidak bisa membaca Al Qur’an dengan baik dan tidak mengerti rukun-rukun Islam atau kewajiban istri terhadap suami. Akhirnya mereka mengambil harta suami tanpa izinnya, menipu suami dengan anggapan boleh demi keharmonisan rumah tangga serta musibah-musibah lainnya.” (Ahkamun Nisa’ hlm. 6 dalam Majalah Al Furqon edisi 11 tahun VII). 2. Sebagai istri Seorang istri memiliki kewajiban untuk menaati suaminya dalam hal-hal yang bukan merupakan kemaksiatan terhadap Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى المَََْعْرُوْفِ “Tidak (boleh) taat (terhadap perintah) yang di dalamnya terdapat maksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebajikan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Maka tidaklah seorang istri dapat mengetahui apakah suatu urusan merupakan kemaksiatan atau bukan kecuali dengan ilmu syar’i. Selain itu, di akhir zaman ini, ketika keburukan banyak bertebaran di muka bumi yang membuat banyak orang hanyut dalam lumpur dosa, maka seorang istri yang sholihah harus membekali dengan ilmu syar’i agar dapat menjaga keistiqomahan dirinya dan suaminya serta keluarganya. Dengan nasihat yang baik dan kelemahlembutan yang dimiliki seorang wanita, seorang suami akan mampu menemukan ketenangan dan kekuatan yang akan menjaga dirinya dan keluarganya dari perbuatan-perbuatan dosa misalnya berbuat syirik dan bid’ah, berzina, mencari nafkah yang haram, mengambil riba, dan perkara-perkara maksiat lainnya. Karena agama adalah nasihat sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, الـدِيْـنُ النَصِيْحَةُ “Agama adalah nasiha.t” (HR. Muslim) Nasihat akan lebih dapat diterima oleh hati manusia jika diiringi dengan sikap lemah lembut. Allah Ta’ala berfirman dalam rangka memberi perintah kepada Nabi Musa ‘alaihissalam dan saudaranya (Harun) ketika berdakwah kepada Fir’aun, اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى٭ فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى٭ “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Qs. Thaahaa : 43-44) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam sebuah hadits yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, يَا عَائِشَة إِنَّ الرِّفْقَ مَا كَانَ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَنُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ “Wahai ‘Aisyah, tidaklah kelembutan terdapat pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan memburukkannya.” 3. Sebagai ibu Sebuah syair Arab mengungkapkan hal berikut, الأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَهَا أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الْأَعْرَاقِ “Seorang ibu tak ubahnya bagai sekolah. Bila kita mempersiapkan sekolah itu secara baik, berarti kita telah mempersiapkan suatu bangsa dengan generasi emas.” Beban perbaikan dan pembentukan masyarakat yang Islami juga menjadi tanggung jawab wanita. Hal ini dikarenakan jumlah wanita yang lebih banyak dari laki-laki dan seorang anak tumbuh dari bimbingan seorang wanita. Maka, tidak bisa tidak seorang wanita harus membekali dirinya dengan ilmu syar’i khususnya mengenai pendidikan anak karena pendidikan anak menjadi tugas utama yang dibebankan kepada kaum wanita. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Hendaknya seorang wanita membaguskan pendidikan anak-anaknya karena anak-anaknya adalah generasi penerus di masa yang akan datang. Dan yang mereka contoh pertama kali adalah para ibu. Jika seorang ibu mempunyai akhlak, ibadah, dan pergaulan yang bagus, mereka akan tumbuh terdidik di tangan seorang ibu yang bagus. Anak-anaknya ini akan mempunyai pengaruh positif dalam masyarakat. Oleh karena itu, wajib bagi para wanita yang mempunyai anak untuk memperhatikan anak-anaknya, bersungguh-sungguh dalam mendidik mereka, memohon pertolongan jika suatu saat tidak mampu memperbaiki anaknya baik lewat bantuan bapak atau jika tidak ada bapaknya lewat bantuan saudara-saudaranya atau pamannya dan sebagainya”. (Daurul Mar’ah fi Ishlah Al Mujtama’ hlm. 25-26 dalam Majalah Al Furqon edisi 12 tahun VIII) Seorang ibu yang cerdas dan shalihah tentu saja akan melahirkan keturunan yang cerdas dan sholih pula, bi idzinillah. Lihatlah hal itu dalam diri seorang shahabiyah yang mulia, Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha, ibunda Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang merupakan pembantu setia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain cerdas, ia juga penyabar dan pemberani. Ketiga sifat mulia inilah yang menurun kepada Anas dan mewarnai perangainya di kemudian hari. (Ibunda Para Ulama, hlm.25) Dengan kecerdasannya, ia ‘hanya’ meminta sebuah mahar yang ringan diucapkan namun terasa berat konsekuensinya, yaitu keislaman Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu yang meminangnya saat itu. Dengan kesabarannya pula, ia mampu menyimpan rapat-rapat kesedihannya karena kematian putranya demi menenangkan suaminya. Potret Semangat Para Salafush Shalih dalam Menuntut Ilmu Demikian pentingnya peran para wanita. Dalam setiap lini kehidupannya, pasti membutuhkan ilmu syar’i. Hal ini pula yang dimengerti betul oleh para shahabiyah pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mereka meminta waktu khusus pada beliau untuk mengkaji masalah-masalah agama. Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa ada seorang wanita menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, kaum laki-laki telah memborong waktumu. Oleh karenanya peruntukkanlah untuk kami sebuah waktu khusus yang engkau tetapkan sendiri. Pada waktu itu kami akan mendatangimu lalu engkau ajarkan kepada kami ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Berkumpullah kalian pada hari ini dan ini di tempat ini.” Kaum wanita pun berkumpul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mendatangi mereka dan mengajari mereka ilmu yang telah Allah ajarkan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari dan Muslim) Semangat kaum wanita muslimah dalam mencari ilmu telah mencapai puncaknya hingga mereka menuntut adanya majelis ilmu yang khusus diperuntukkan untuk mengajari mereka. Padahal sebenarnya mereka telah mendengarkan kajian Rasulullah di masjid serta nasihat-nasihat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga keadaan para wanita Anshar pada masa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita dari kaum Anshar. Rasa malu tidak menghalangi diri mereka untuk mendalami ilmu agama.” (HR. Muslim) Kita jumpai pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan kaum wanita untuk menghadiri berbagai majelis ilmu guna menambah bekal keilmuan mereka. Dari Ummu ‘Athiyah al Anshariyyah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kami untuk menghadiri sholat hari raya ‘Idul Fithri dan hari raya ‘Idul Adha, baik awatiq (gadis yang sudah baligh atau hampir baligh), maupun wanita-wanita yang sedang haid dan juga gadis-gadis pingitan. Adapun wanita yang sedang haid, mereka hendaknya tidak berada di tempat shalat. Saat itu mereka menyaksikan kebaikan dan doa yang dipanjatkan oleh kaum muslimin. Ummu Athiyah berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya muslimah yang lain meminjami jilbab untuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim) (Para Ulama Wanita Pengukir Sejarah, hlm. 8-10) Sejarah telah mencatat, ulama tidak hanya berasal dari kalangan laki-laki saja. Ada banyak ulama wanita yang masyhur dan bahkan menjadi rujukan bagi ulama dari kalangan laki-laki. Lihat saja ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, wanita cerdas yang namanya akan terus dibaca oleh kaum muslimin dalam banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Aisyah pula yang merupakan sebaik-baik teladan para wanita dalam menuntut ilmu, baik itu ilmu agama maupun ilmu umum. Az Zuhri mengatakan, “Andai ilmu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha itu dikumpulkan lalu dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita, niscaya ilmu yang dimiliki oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha itu lebih unggul”. (Al Haitsami berkata dalam al Majma’ (9/243), “Hadits ini diriwayatkan oleh Ath Thabarani sedangkan rawi-rawinya adalah orang yang bisa dipercaya.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al Hakim 4/139. Lihat: Para Ulama Wanita Pengukir Sejarah, hlm. 20) Begitu juga dengan masa setelah para shahabat (yaitu masa tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan seterusnya). Setiap zaman selalu menorehkan tinta emas nama-nama para ulama wanita hingga masa sekarang ini. Di antara mereka, adalah putri-putri ulama besar di jamannya. Sebut saja putri Sa’id bin Musayyib (tabi’in), putri Imam Malik, Ummu ‘Abdillah binti Syaikh Muqbil bin Hadi, dan lainnya. Apakah ilmu yang mereka dapatkan itu merupakan ilmu warisan dari ayah-ayah mereka yang seorang ulama? Jawabannya, tentu tidak. Ilmu bukanlah harta benda yang dapat diwariskan begitu saja. Alangkah bagusnya apa yang diceritakan oleh Al Farwi, “Kami pernah duduk di majelis Imam Malik. Pada saat itu putra beliau keluar masuk majelis dan tidak mau duduk untuk belajar. Maka Imam Malik menghadap kami seraya berkata, “Masih ada yang meringankan bebanku yaitu bahwa masalah ilmu ini tidak bisa diwariskan.” (Majalah al Furqon edisi 12 tahun VI) Tentu saja ilmu yang mereka dapatkan tidak datang begitu saja. Ada usaha dan pengorbanan yang besar untuk meraihnya. Mari kita simak kegigihan para salaf dahulu dalam menuntut ilmu. Hasan Al Bashri berkata, “Apabila engkau mendapati seseorang yang mengalahkanmu dalam urusan dunia, maka kalahkanlah dia dalam urusan akhirat.” Imam Ahmad berwasiat kepada putranya, “Aku telah menginfakkan diriku untuk perjuangan”. Ketika Imam Ahmad ditanya kapan seseorang dapat beristirahat? Maka beliau menjawab, “Ketika pertama kali menginjakkan kakinya di surga.” Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata, “Dahulu generasi salaf menuntut ilmu karena Allah, maka mereka pun menjadi terhormat dan menjadi para imam panutan. Kemudian datanglah suatu kaum yang menuntut ilmu yang pada mulanya bukan karena Allah dan berhasil memperolehnya. Namun kembali kepada jalan yang lurus dan mengintrospeksi dirinya sendiri dan akhirnya ilmu itu sendiri yang mendorong dirinya menuju keikhlasan di tengah jalan. Sebagaimana dinyatakan oleh Mujahid dan lainnya, “Dahulu kami menuntut ilmu tanpa niat yang tinggi. Namun, kemudian Allah menganugerahi niat tersebut sesudah itu.” Sebagian ulama menyatakan, “Kami hendak menuntut ilmu untuk selain Allah. Namun ternyata ia hanya bisa dilakukan karena Allah”. (Panduan Akhlak Salaf , hlm. 7) Para salaf yang lain juga benar-benar bersemangat memperhatikan permasalahan niat ini. Sufyan Ats Tsauri berkata, “Saya tidak pernah mengobati sesuatu melebihi terapiku terhadap niat.” Tidak hanya hati saja yang mereka jaga kesungguhan dan ketulusannya ketika menuntut ilmu, tubuh mereka pun ditempa sedemikian rupa sehingga menjadi raga yang kuat menghadapi rintangan dalam perjalanan menuntut ilmunya. Perhatikanlah kisah Hajjaj bin Sya’ir ini, “Ibuku pernah menyiapkan untukku seratus roti kering dan aku menaruhnya di dalam tas. Beliau mengutusku ke Syubbanih (salah seorang ahli hadits) di Madain. Aku tinggal di sana selama seratus hari. Setiap hari aku membawa seratus roti dan mencelupkannya ke sungai Dajlah kemudian aku memakannya. Setelah roti habis aku kembali ke ibuku.” (102 Kiat Agar Semangat Belajar Agama Membara, hlm. 274). Penutup Mungkin saja kita tidak bisa setara dengan para salafush sholih dalam semangat mereka menuntut ilmu. Akan tetapi, segala upaya harus kita kerahkan agar semangat menuntut ilmu itu selalu terhujam kuat di dalam hati kita. Allah berfirman, فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (Qs. At Taghaabun : 16) Maka tidak ada lagi alasan “Saya cuma ibu rumah tangga” atau “Saya sudah jadi seorang istri” atau “Saya tinggal di tempat yang jauh dari majelis ilmu” untuk menghindari kewajiban menuntut ilmu. Dengan berkembangnya teknologi di masa sekarang ini –misalnya internet, radio, rekaman kajian (kaset, CD, VCD, DVD), buku-buku Islam, dan majalah Islami- cukup memudahkan kita para wanita untuk tetap dapat menuntut ilmu tanpa harus datang dan duduk langsung dalam sebuah majelis ilmu jika keadaan memang tidak memungkinkan. Semoga dengan sedikit pemaparan di atas, semangat para wanita untuk menuntut ilmu dapat tumbuh subur, sehingga dengan ijin Allah Ta’ala kita dapat songsong kembali kejayaan umat Islam di atas manhaj salafush sholih. Wallahu Ta’ala A’lam.

Kamis, 21 Juli 2011

akankah Ramadhan tahun ini biasa-biasa saja???

Negeri para Anbiya…

seribu empat ratus tiga puluh tahun hijriyah yang lalu

17 Ramadhan 2 H

313 tentara kaum muslimin melibas 1.000 pasukan kafir Quraisy di Badar







Makkah..

seribu empat ratus dua puluh empat tahun hijriyah yang lalu

21 Ramadhan 8 H

10.000 pasukan kaum muslimin melakukan penaklukan Makkah secara damai







Yaman..

seribu empat ratus dua puluh dua hijriyah yang lalu

Ramadhan 10 H

Ali bin Abi Thalib bersama sepasukan tentara bertugas membawa surat dari Rasulullah. satu suku berpengaruh disana tanpa paksaan langsung menerima dan masuk Islam







Andalusia, Spanyol

seribu tiga ratus empat puluh tahun hijriyah yang lalu

Ramadhan 92 H

12.000 pasukan muslimin dapat menaklukkan 100.000 pasukan Raja Rhoderick

Diawali dengan pembakaran kapal-kapal yang diiringi kata-kata “Kita datang kesini tidak untuk kembali. Kita hanya punya dua pilihan, menaklukkan negeri ini dan menetap disini serta mengembangkan Islam atau kita semua binasa(syahid)”







Khurasan..

Seribu tiga ratus tiga tahun hijriyah yang lalu

Ramadhan 129 H

keberhasilan dan kemenangan da’wah Bani Abbas dibawah kepemimpinan Abu Mulim Al-Khurasany





Mesir,,

Ramadhan 361 H

Seribu tujuh puluh satu tahun hijriyah yang lalu

Universitas Al-Azhar dibuka di Kairo. Perguruan tinggi Islam terkemuka ini telah menghasilkan ratusan ribu alumni, ratusan ribu ulama.







Palestine..

Delapan ratus empat puluh delapan tahun hijriyah yang lalu

Ramadhan 584 H

Shalahuddin al-Ayubi memperoleh kemenangan besar-besaran atas pasukan Salib Eropa

Tentara Islam menguasai daerah-daerah yang sebelumnya diduduki orang-orang Kristen

Setelah sebelumnya memporak-porandakan kekuatan pasukan Salib di bawah komando Raja Richard (Richard The Lion Heart) III dari Inggris yang akhirnya bertekuk lutut di hadapan Shalahuddin al-Ayubi yang gagah

Kemenangan itu mengakhiri cengkeraman kekuasaan pasukan Salib atas bumi Palestina







Jakarta, Indonesia…

10 Ramadhan 1364 H

Enam puluh delapan tahun hijriyah yang lalu.

17 Agustus 1945 tahun masehi

Negeri dengan jumlah penduduk Muslim terbesar didunia memplokramirkan kemerdekaannya.







Jogjakarta..

Ramadhan 1432 H

Akankah sejarah Ramadhan biasa-biasa saja??

Mana karya?

Mana Makna?

Ramadhan seharusnya menjadi salah satu puncak kesuksesan bagi seorang pejuang





http://aisyahkecil.wordpress.com

*dengan beberapa perubahan

Senin, 27 Juni 2011

Its My World in JTMI


Teknik Industri.... Teknik Industri..... !!!
mendengar kata itu seraya kompak menjawab "SATU", yupps.. itulah kehidupan terbaruku saat ini. menjalani hari-hari di Teknik industri UGM, yang merupakan jurusan terfavorit di UGM...
foto diatas merupakan keluargaku selama berorganisasi di HMTI yang merupakan himpunan mahasiswa teknik ndustri UGM. di HMTI tepatnya di departemen PERSMA ( PERS MAHASISWA) walaupun awalnya sempet ngerasa menjadi beban ketika di persma, tapi seiring berjalannya waktu akhirnya merasa ENJOOYYY dan ASYYEEK T,T
ga di sangka udah 1 tahun kepengurusan di PERSMA, dan sekarang ini tinggal angkatan 2010 yang mengambil setir PERSMA,.. SEMANGAT untuk PERSMA 2010, "KITA PASTI KAYA" sesuai jargon kita,..ckckck... :D

Jumat, 10 Juni 2011

~ Bila Aku Jatuh Cinta ~


Allahu Rabbi aku minta izin
Jika suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu
berkurang......
Hingga membuat lalai
akan adanya Engkau

Allahu Rabbi...
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan
bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat
aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang
yang hatinya penuh dengan kasih-Mu
dan membuatku
semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi...
Bila suatu saat aku jatuh hati
pertemukanlah kami
berilah kami kesempatan
untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu rabbi
Pintaku terakhir adalah
seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan
Wajah-Mu darikku
Anugerahkan aku cinta-Mu
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu....

A New Revolution of Me

Tidak terasa sebentar lagi Ujian Akhir Semester akan segera tiba. Segala persiapan menuju Ujian Akhir telah aku persiapkan sejak dini, dengan tujuan agar ujian akhir kali ini aku bisa mendapatkan hasil yang lebih baik dan memuaskan dari Ujian semester lalu. Setiap malam harinya aku berusaha  membuka-buka kembali buku materi kuliah yang telah disampaikan  dikelas selama kuliah. Meskipun badan sebenarnya terasa letih karena berangkat pagi dan pulang magrib, tapi itu tidak menjadikan alasan aku untuk bermalas-malasan. Sembari belajar sambil menyalakan laptop, aku teringat sebuah catatan kecil didalam buku hariannya yang selalu dibawa ke kampus. Sebuah buku yang seharusnya berisi cerita rutinitas kesehariannya, tapi buku ini malah berisi bermacam-macam  agenda yang harus diselesaikan sesuai deadline masing-masing. Masih teringat ketika pertama kali masuk di kampus biru ini, dalam pikiran aku hanya bagaimana caranya supaya menjalani kuliah dengan baik dan lulus dengan cepat. Namun setelah seiring berjalannya waktu pikiran yang terdahulu itu telah berubah, sekarang ini aku merubah pikirannya yaitu disamping menjalani kuliah dengan baik dan lulus cepat, tetapi juga mengukir prestasi yang sebanyak-banyaknya. Meskipun saat ini itu hanya sebuah mimpi yang targetnya suatu saat bisa tergenggam di tanganku.
          Mungkin inilah keputusan jalan hidup yang diambil olehku saat ini, dengan menjalani rutinitas dikampus selain belajar dan berorganisasi juga  bersikeras mengukir prestasi. Dengan didorong motivasi oleh teman-temanku, segala sesuatu yang akuj alani menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Kadang aku berpikir, kenapa sih hidup dibuat ribet?? dengan melihat orang disekitar yang begitu enjoynya menjalani hidup, sempat aku merasa iri dengan semua itu. Ya, aku sadar bahwa setiap orang itu punya pilihan jalan hidup masing-masing, yang terpenting adalah  dari hidup yang mereka pilih itu bisa membuat mereka senang dan bahagia. Aku pun teringat sepenggal kalimat yang pernah kubaca dari buku favoritku Negeri 5 Menara ,“ berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.” Setelah menimbang penggalan kutipan tersebut aku kembali tersadar karena bahwasanya manusia dianjurkan untuk berusaha keras untuk mencapai impian, namun segalanya Tuhan-lah yang menentukan. Apapun kenyataan hidup ini harus dihadapi dengan rasa syukur karena seseorang yang berhasil dalam hidup  adalah seseorang yang mampu memaknai kegagalan dalam hidupnya. So guys, hidup itu adalah sebuah pilihan apapun konsekuensinya harus tetap dijalani dan disyukuri. Keep fight…\(^__^)/

Template by:

Free Blog Templates